
JAKARTA SELATAN – Provinsi Jawa Barat berhasil masuk dalam empat besar nasional dalam ajang Penghargaan Industri Hijau kategori Pemerintah Daerah dengan Implementasi Industri Hijau Terbaik yang digelar oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Pencapaian ini menjadi bukti konkret komitmen Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat (Jabar) dalam mendorong transformasi industri menuju arah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dalam proses penilaian yang berlangsung di Jakarta (16/7/2025), Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jabar, Nining Yuliastiani, hadir secara langsung untuk memaparkan capaian dan strategi implementasi industri hijau di Jabar di hadapan tim juri yang terdiri dari para ahli industri hijau nasional.
Dalam paparannya, Nining menegaskan bahwa implementasi industri hijau di Jabar telah memiliki fondasi regulatif yang kuat. Hal ini antara lain didukung oleh Perda No. 8 Tahun 2018 tentang Rencana Pembangunan Industri Provinsi (RPIP) yang secara eksplisit mengarahkan pembangunan industri berbasis keberlanjutan, serta Perda No. 13 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Jabar Tahun 2025–2045 yang isinya menentukan target ekonomi hijau di Jabar.
“Hingga 2024, Jabar telah memiliki 34 industri besar yang tersertifikasi industri hijau. Ini merupakan peningkatan signifikan dari hanya 19 industri pada tahun 2023. Jumlah tersebut masih bisa lebih besar mengingat sertifikasi bersifat sukarela dan belum semua sektor industri memiliki standar industri hijau dari Kemenperin,” ujar Nining.
Tak hanya itu, Jabar juga telah mendorong penerapan konsep Eco Industrial Park (EIP) di beberapa kawasan industri unggulan, seperti Kawasan Industri Jababeka, Karawang International Industrial City (KIIC), dan Greenland International Industrial Center (GIIC). Beberapa kawasan ini bahkan telah menerapkan teknologi pengolahan limbah canggih, penggunaan energi terbarukan seperti PLTS atap, hingga mendukung program Net-Zero Industrial Cluster Community (NZICC).
Selain industri besar, Industri Kecil dan Menengah (IKM) juga menjadi bagian penting dalam transformasi hijau di Jabar. Contohnya, PT Azaki Food International yang menerapkan energi biomassa dan pengolahan limbah berbasis biogas, serta Rumah Batik Komar yang mengembangkan alat pengolah limbah batik ramah lingkungan (ALIMBa) berbasis pewarna alami.
Guna mengakselerasi implementasi industri hijau, Pemprov Jabar telah menyusun roadmap bertahap hingga 2030 yang terbagi dalam tiga fase: peningkatan kesadaran dan kapasitas SDM (2024–2026), penguatan regulasi dan insentif (2027–2028), serta pemeliharaan dan perbaikan berkelanjutan (2029–2030).
Program-program strategis seperti workshop keberlanjutan industri, pelatihan pengembangan produk ramah lingkungan, fasilitasi layanan pengujian limbah, hingga penyerapan tenaga kerja di industri kendaraan listrik juga telah berjalan dan berdampak nyata. Bahkan, Jabar menargetkan rekrutmen 5.000 hingga 6.000 tenaga kerja oleh industri EV, seperti PT BYD Auto Indonesia pada Agustus 2025 mendatang.
Di akhir pemaparan, Nining menyampaikan harapan agar kolaborasi lintas sektor terus diperkuat demi menjadikan Jabar sebagai pusat industri hijau nasional.
“Jabar bukan hanya ingin menjadi provinsi industri terbesar, tetapi juga terdepan dalam transformasi industri yang hijau, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis: Septian Yudho Rinaldi

