
KOTA BANDUNG – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat (Jabar) yang masih tinggi menjadi tantangan dalam menyiapkan tenaga kerja yang mampu bersaing di pasar kerja. Selain kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, kesenjangan kemampuan atau skill gap juga mencakup keterampilan nonteknis (soft skill) dan kesiapan pelamar dalam menunjukkan potensi dirinya kepada perusahaan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar per Februari 2026, TPT Jabar tercatat sebesar 6,64 persen, dengan sekitar 1,79 juta penganggur dari total 26,89 juta angkatan kerja. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mempersiapkan calon tenaga kerja agar tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga mampu mengomunikasikan keunggulan dan kesiapan profesionalnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jabar menyelenggarakan Career Talks bertajuk “Membangun Personal Branding dan Profil Profesional” secara daring pada Selasa (27/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to West Java Industrial Festival (WJIF) 2026 untuk membekali calon tenaga kerja, khususnya pelajar, mahasiswa, dan lulusan baru, agar lebih siap menghadapi persaingan pasar kerja.
Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pemahaman mengenai cara mengenali potensi diri, membangun citra profesional yang autentik, menyusun resume yang sesuai kebutuhan rekrutmen, serta mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi kerja.
Hadir sebagai narasumber, Aulia Hanifah, praktisi Talent Acquisition dan psikologi kerja, membahas strategi memperkuat personal branding serta mengoptimalkan resume yang sesuai dengan sistem Applicant Tracking System (ATS). Sistem tersebut digunakan perusahaan untuk membantu mengelola proses rekrutmen, sehingga penyusunan resume perlu memperhatikan struktur yang jelas, kata kunci yang relevan, dan pengalaman yang sesuai dengan posisi yang dilamar.
“Resume yang baik bukan sekadar daftar riwayat pendidikan dan pengalaman. Pelamar perlu menunjukkan kompetensi yang relevan melalui contoh nyata, menjelaskan kontribusinya, dan menyampaikan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Aulia.
Ia juga menjelaskan bahwa profil profesional perlu dibangun secara konsisten melalui berbagai kanal, termasuk resume, LinkedIn, dan portofolio. Pengalaman organisasi, proyek perkuliahan, magang, hingga kegiatan sukarela dapat menjadi bukti kompetensi selama disajikan secara relevan dengan pekerjaan yang dituju.

Selain keterampilan teknis, peserta juga diajak memahami pentingnya kesiapan diri dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi proses pencarian kerja. Materi tersebut disampaikan oleh Mimin Rukmini, Pengantar Kerja Ahli Muda dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jabar.
Menurut Mimin, personal branding bukan sekadar membentuk citra agar terlihat menarik di hadapan perusahaan, melainkan memperkenalkan kemampuan, karakter, dan nilai profesional secara autentik serta konsisten.
“Personal branding yang kuat perlu dibangun dari pemahaman terhadap potensi diri dan didukung bukti nyata, seperti pengalaman, portofolio, sertifikasi, serta hasil kerja. Apa yang ditampilkan dalam profil profesional harus selaras dengan kemampuan yang benar-benar dimiliki,” tutur Mimin.
Ia menekankan bahwa kesiapan memasuki dunia kerja juga perlu didukung kemampuan komunikasi, inisiatif, kolaborasi, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan. “Calon tenaga kerja pun perlu memahami kelebihan dan area yang masih perlu dikembangkan, sekaligus membiasakan diri menyampaikan pengalaman secara terstruktur saat wawancara,” imbuh Mimin.
Pembekalan ini diharapkan dapat membantu calon tenaga kerja Jabar meningkatkan kesiapan, mengenali nilai tambah yang dimiliki, serta menyelaraskan kompetensi dengan kebutuhan dunia industri.
Penulis: Septian Yudho Rinaldi



