Hero section image background

Pabrik BYD di Subang Diresmikan, Perkuat Investasi dan Serapan Tenaga Kerja Industri Jawa Barat

Senin, 7 September 2026

Berita

74

Postingan ini dilihat

1

Postingan ini dibagikan

Poster post Pabrik BYD di Subang Diresmikan, Perkuat Investasi dan Serapan Tenaga Kerja Industri Jawa Barat

KABUPATEN SUBANG – Peresmian fasilitas produksi BYD Indonesia di Subang Smartpolitan Industrial Park, Kabupaten Subang, Kamis (3/9/2026), menjadi momentum penting bagi Jawa Barat dalam memperkuat investasi industri sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri.

Fasilitas produksi kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) tersebut berdiri di atas lahan seluas 126 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp16 triliun. Kehadiran fasilitas ini memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri otomotif dan kendaraan listrik di Indonesia.

Dari sisi ketenagakerjaan, hingga saat ini BYD Indonesia telah menyerap 5.134 tenaga kerja lokal Indonesia. Sebanyak 4.208 di antaranya berasal dari Jawa Barat, yang mengisi berbagai posisi mulai dari operation, teknisi, hingga staf.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, kebutuhan tenaga kerja BYD ke depan masih akan terus berkembang seiring dengan peningkatan aktivitas produksi. Menurutnya, kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup tenaga kerja operasional, tetapi juga tenaga dengan kompetensi teknis dan keahlian khusus.

Pada Maret 2025, KDM menyebut pabrik BYD membutuhkan sekitar 18.000 pekerja, termasuk tenaga engineer dan bidang elektronik. Ia menegaskan, kebutuhan tenaga kerja tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Jawa Barat untuk memastikan masyarakat lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus mulai menyiapkan calon tenaga kerja untuk BYD yang diproyeksikan mencapai 18.000 orang saat pabrik beroperasi dalam kapasitas penuh, baik untuk tenaga kerja terampil maupun tenaga kerja umum,” katanya.

Dedi juga menekankan pentingnya menyiapkan calon tenaga kerja sejak jenjang pendidikan menengah. Menurutnya, kebutuhan industri dengan teknologi tinggi seperti kendaraan listrik membutuhkan proses pembentukan kompetensi yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Kalau kita ingin menyiapkan tenaga teknis, harus disiapkan sejak kelas 10,” ujar Dedi dalam kesempatan tersebut.

Langkah tersebut sejalan dengan pengembangan pendidikan vokasi yang diarahkan untuk semakin dekat dengan kebutuhan industri. Peluang kerja di ekosistem BYD terbuka bagi lulusan dengan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMA/SMK hingga perguruan tinggi dan jenjang S2.

Tenaga kerja asal Jawa Barat yang telah terserap juga berasal dari sejumlah daerah, antara lain Subang, Karawang, Purwakarta, Bekasi, dan Cirebon. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan investasi industri dapat memberikan peluang kerja tidak hanya di wilayah sekitar kawasan industri, tetapi juga bagi tenaga kerja dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Dedi menilai keberadaan BYD akan memberikan dampak lebih luas terhadap pertumbuhan industri di Jawa Barat. Tidak hanya melalui penyerapan tenaga kerja, tetapi juga melalui tumbuhnya aktivitas industri pendukung di sekitar kawasan.

“Dengan adanya pabrik ini industri di Jawa Barat akan tumbuh dengan lapangan kerja meningkat, Jawa Barat Istimewa,” kata Dedi.

Ia juga mendorong agar keberadaan fasilitas produksi BYD dapat diikuti dengan penguatan ekosistem industri lokal. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, politeknik, SMA, SMK, hingga lembaga penelitian dinilai penting untuk memastikan kebutuhan kompetensi industri dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Dari sisi pemerintah daerah, Jawa Barat terus mendorong keterhubungan antara investasi industri dengan pelaku industri lokal. Dukungan diarahkan pada pembukaan peluang kemitraan komponen dan bahan baku lokal, sekaligus penyediaan calon tenaga kerja yang berasal dari Jawa Barat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga turut menangani sejumlah aspek yang berkaitan dengan keberlangsungan investasi, termasuk penyelesaian persoalan tumpang tindih penetapan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) di area fasilitas produksi BYD.

Di sisi lain, pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia terus berjalan beriringan dengan kebijakan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kementerian Perindustrian menetapkan roadmap TKDN kendaraan listrik dengan tingkat minimum 40 persen hingga 2026, yang kemudian akan meningkat menjadi 60 persen pada periode 2027–2029, hingga akhirnya mencapai target minimum 80 persen mulai tahun 2030.

Kebijakan ini membuka ruang yang semakin besar bagi industri komponen lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok kendaraan listrik nasional. Kondisi tersebut menjadi peluang emas bagi Jawa Barat–sebagai provinsi dengan kontribusi industri manufaktur terbesar nasional, yakni mencapai 27,32 persen–untuk memperkuat keterlibatan industri kecil dan menengah serta produsen komponen daerahnya.

Potensi pengembangan di Jawa Barat ini terasa semakin relevan jika melihat pesatnya pertumbuhan pasar kendaraan listrik di tanah air. Berdasarkan data hingga April 2026, populasi kendaraan listrik mencapai 468.231 unit, terdiri atas 242.909 kendaraan listrik roda dua dan 223.100 kendaraan listrik roda empat.

Kehadiran fasilitas produksi BYD di Subang diharapkan semakin memperkuat keterhubungan antara investasi, kebutuhan tenaga kerja, pendidikan vokasi, industri komponen, dan pengembangan industri kendaraan listrik di Jawa Barat.

Dengan semakin berkembangnya ekosistem tersebut, pemerintah daerah memiliki ruang lebih besar untuk memastikan pertumbuhan industri memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing SDM dan industri Jawa Barat.

Penulis: Septian Yudho Rinaldi

Tags

  • industri
  • perindustrian
  • investasi
  • tenagakerjaindustri
  • sumberdayamanusiaindustri
  • vokasiindustri
  • rantaipasok
Footer Site Logo

Alamat

Jln. Asia Afrika No.146, Paledang, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40261

Nomor Telepon

022-4230898

Sosial Media

Copyright © 2024. Made with love with Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat (Disperindag Jabar). Powered by Jabar Site (J-Site).